Puasa dan Empati

Puasa secara syariat Islam berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, disertai dengan niat menjalankan ibadah puasa (Ayyub,2008)

Telah banyak penelitian ataupun kajian yang mengungkap bahwa puasa memberi manfaat terhadap kesehatan tubuh. Sehingga tidak heran bahwa puasa telah dipraktikkan sejak lama dan juga dilakukan oleh beragam penganut agama atau keyakinan lainnya.

Selain menahan haus dan lapar, di dalam berpuasa kita dilatih untuk menahan kemarahan, menahan diri untuk tidak berbuat zalim, atau perilaku-perilaku tercela lainnya. Disinilah puasa memberi peran penting bagi kehidupan sosial.

Pertama, kewajiban berpuasa bagi umat muslim secara tidak langsung akan mengajarkan mereka-yang dalam strata ekonomi atas, menjadi mafhum dan sadar akan kesulitan hingga kelaparan yang barangkali belum pernah mereka alami.

Kedua, dengan banyaknya kegiatan positif di bulan Ramadhan, setiap orang semakin bersemangat untuk berbagi, hal ini dikarenakan suasana di bulan Ramadhan memang dekat dengan kegiatan berbagi.

Waryono Abdul Ghofur, dalam bukunya Tafsir Sosial Mendialogkan Teks dengan Konteks, menjelaskan bagaimana puasa yang benar akan mendidik pelakunya untuk memiliki rasa empati pada orang lain yang terlantar dan tertindas. Hal ini juga tampak pada kewajiban membayar zakat fitrah dan amal sedekah lainnya.

Selain itu, di tengah kehidupan yang serba terburu-buru, makanan cepat saji, hingga tuntutan pekerjaan yang tidak habis-habis, maka puasa kali ini hendaknya dapat hadir sebagai jeda sekaligus melatih kembali disiplin kita atas waktu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.