Kecerdasan Emosional Meningkat Saat Puasa

Puasa Ramadhan dapat meningkatkan kecerdasan emosi pada anak. Hal ini pernah ditulis secara lengkap melalui laman berita Tirto.id dengan judul Puasa Ramadan Ampuh Tingkatkan Kecerdasan Emosi Anak.

Temuan ini merupakan hasil riset yang dilakukan oleh Dr. Masod Nikfarjam dan dua rekannya di Shahrekord University of Science, Iran. Mereka mengelompokkan kecerdasan emosional (EQ) ke dalam 15 kategori diantaranya; Pemecahan masalah, kebahagiaan, kemandirian, toleransi stres, identifikasi diri sendiri, kesadaran diri, kesadaran akan dunia sekitar, hubungan antarpersonal, optimism, harga diri, kontrol impuls, fleksibilitas, tanggungjawab, empati, dan ketegasan.

Penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor atas 15 indikator kecerdasan emosional tersebut selama berpuasa. Adapun peningkatan paling signifikan dari temuan ini adalah pada indikator empati, tanggungjawab, kontrol impuls, dan identifikasi diri.

Kecerdasan emosi ini barangkali tidak permanen, karena EQ terbentuk oleh beragam faktor yang cenderung akan berubah pada saat-saat tertentu. Hanya saja, pengoptimalan atas pencapaian kecerdasan emosional ini dapat terus dibiasakan melalui beragam upaya pendidikan.

Suasana Ramadhan dapat terus dihidupkan jika orangtua maupun guru mampu mendorong anak untuk terus berbuat baik, peduli, sekaligus mengenalkan mereka dengan isu-isu sosial yang menimpa teman sebayanya di wilayah lain.

Salah satu alternatifnya adalah dengan mengajak mereka menonton film yang berangkat dari perspektif anak-anak. Ada banyak sekali film yang mengangkat isu sosial ekonomi namun dari kacamata anak-anak, salah satunya adalah Children of Heaven. Film karangan Majid Majidi, sutradara Iran ini sudah sering ditayangkan di televisi nasional, terutama menjelang Idul Fitri. Namun belum banyak pendampingan yang secara serius membawa anak-anak pada diskursus yang dihadirkan oleh film ini.

Pada Children of Heaven kita dapat melihat anak-anak dalam kompleksitas hariannya. Tokoh Ali dan Zahra di dalam film menunjukan bahwa anak-anak turut mengalami pergumulan konflik dan telah secara aktif membentuk cara mereka mengambil keputusan, kita tidak lagi melihat anak-anak sebagai sosok yang polos atau lugu, dan barangkali memang begitu seharusnya. Anak-anak sejatinya tidak dianggap sebagai karakter yang pasif dalam kehidupan, melibatkan mereka dan memberi ruang diskusi akan membentuk pola pikir kritis yang kelak memberi dampak yang lebih baik bagi kecerdasan emosional mereka.

Leave A Reply

Your email address will not be published.